Metode-Metode
Pembelajaran dalam islam
Telah
dikatakan didepan bahwa pendidikan Islam tidak keberatan untuk menggunakan
metode teknik-teknik pembelajaran apapun jenis, nama, dan bentuknya, jika
metode dan teknik-teknik itu memang terbukti baik dan tidak bertentangan dengan
iman dan kesalehan hidup seorang Muslim. Terbuka kesempatan yang seluas-luasnya
bagi pendidik muslim untuk menggunakan berbagai macam metode dan teknologi
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, bahan pelajaran, keadaan
peserta didik, pendidik, keadaan dan fasilitas yang tersedia.
Secara historis, sejak awal para
pendidikan muslim telah menggunakan berbagai macam pendekatan dan teknik-teknik
mengajar yang beraneka ragam, antara lain seperti metode atau tariqahbal-qudwah
(contoh teladan), tariqah al-mau izah (pengajaran dan nasehat), tariqah bi
al-adah atau tariqah al-tadrib (latihan dan kebiasaan), tariqah al-mulahazah
(pengawasaan dan pemantauan), tariqah hal al-musykilah (pemecahan masalah),
tariqah al-iktisyafah (penemuan), dan bermacam-macam lagi. (Siddik, 2006)
Di
antara metode-metode yang disebutkan diatas, serta metode-metode lainnya
sebagaimana akan diuraikan berikut ini, merupakan metode belajar yang khas,
yaitu:
1. Metode
Hiwar
Metode hiwar (dialog) ini terbagi kepada
hiwar Qur’ani dan hiwar Nabawi, tetapi
keduaanya
tetap merupakan dialog silih berganti antara dua pihak atau lebih, tentang
suatu tema yang disengaja diarahkan kepada suatu tujuan yang di kehendaki.
Prosesnya
penerapannya yang khas menghasilkan nilai-nilai eduktif yang tinggi. Hal ini
antara lain disebabkan:
a. Dialog
itu berlangsung secara dinamis, karena kedua pihak terlibat langsung dalam
pembicaraan. Hal ini menumbuhkan keterlibatan mental peserta didik untuk
menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,
b. Ketertarikan
peserta didik untuk mengikuti terus pembicaraan itu karena ingin tahu
kesimpulannya, menyebabkan mereka terlatih untuk membuat kesimpulan atas suatu
peristiwadan kejadian.
c. Situasi
dan setting sosial yang terdapat didalamnya dapat membangkitkan perasaan dan
menimbulkan kesan dalam jiwa peserta didik yang dapat membantu dan mengarahkan
peserta didik untuk menemukan sendiri tujuan pembelajaran yang diimplisitkan di
dalamnya.
d. Apabila
metode hiwar dilakukan dengan sebaik-baiknya, niscaya akan memenuhi tuntutan
akhlak dalam islam, seperti cara berdialog dan menyampaikan suatu informasi,
yang secara keseluruhan dapat mempengaruhi peserta didik sehingga meninggalkan
pengaruh berupa pendidikan akhalak, khususnya sikap dalam berbicara, menghargai
pendapat orang lain dan sebagainya.
1. Metode
Qisasi
Metode
qisasi (kisah), baik qisasi Qur’ani maupun qisasi Nabawi, kedua-duanya
menekankan penurunan tentang kisah-kisah yang terdapat dalam al-Qur’an, maupun
didasarkan pada sirah Nabi.
Penerapan
metode qisasi ini sebagai metode pembelajaran pada bidang studi pendidikan
agama islam mengandung nilai edukasi yang tinggi. Suatu kisah memang selalu
memikat dan mengundang pembaca atau pendengar untuk mengikuti peristiwa dan
merenungkan maknanya. Selain itu kisah juga dapat menyentuh hati manusia karena
menampilkan tokoh dalam konteksnya yang menyeluruh, sehingga pendengar maupun
pembaca dapat ikut menghayati dan merasakan isi kisah itu seolah-olah dia
sendiri yang menjadi pelakunya. Kisah dapat mendidik perasaan keimanan dengan
terbangkitnya berbagai perasaan seperti
khauf, ridha, cinta dan mengarahkan seluruh perasaan sehingga tertumpu pada
suatu puncak yaitu kesimpulan kisah, serta melibatkan pembaca atau pendengar ke
dalam kisah itu sehingga ia terlibat secara emosional.
Memang
metode qisasi, dapat dikatakan metode ceramah, akan tetapi ceramahan yang
dilakukan dapat melibatkan mental peserta didik pada taraf yang tinggi, karena
suatu kisah dengan sendirinya selalu berkaitan dengan kenyataan-kenyataan yang
dijumpai di tengah-tengah masyarakat. Tentu saja penyajian metode kisah ini
tidak dilakukan secara menonton, melainkan penuh variasi dengan gaya bahasa
yang baragam.
2. Metode
amsal
Metode
amsal (perumpamaan) ini biasanya digunakan oleh pendidik dengan mengungkapkan
yang hampir sama dengan metode qisasi yaitu dengan berceramah atau membaca
teks. Kebaikan metode ini adalah, mempermudah peserta didik dalam memahami
konsep yang abstrak, merangsan kesan terhadap makna yang tersirat dalam
perumpamaan tersebut, apalagi karena bahan pelajaran yang menggunakan metode
ini menjadi lebih mudah dipahami, logis serta rasional. Metode ini juga
memberikan motivasi untuk berbuat baik dan menjauhi kejahatan, sebagai tujuan
pokok pada penerapan metode ini.
3. Metode
al-‘Adah
Inti
sari metode al-adah (kebiasaan) ini ialah pengulangan, jika pendidik masuk
kelas mengucapkan salam, maka hal itu dapat diartikan sebagai usaha pembiasaan.
Bila peserta didik telah dibiasakan bersih dan rapi setiap datang ke sekolah/madrasah,
berarti setiap menerapkan metode ini. Bila peserta memasuki kelas tidak
mengucapkan salam, termasuk dari bagian penerapan metode ini.
4. Metode
al-Qudwah
Metode
al-qudwah (keteladanan) ini memang berpusat pada pendidik. Keteladanan personal
para pendidik merupakan kunci keberhasilan dalam penerapan metode ini.
Betapapun metode pembiasaa memang efektif untuk pembentukan sikap dan
nilai-nilai, akan tetapi tidak diimbangi dengan keteladanan para pendidiknya
maka hasilnya pun, jika tidak sia-sia sama sekali maka sekurang-kurangnya
menjadi kurang efektif. Itulah sebabnya keteladanan pendidik merupakan
prasyarat bagi keberhasilan pendidikan.
5. Metode
al-‘Ibrah wa al-Mau’izah
Pendidikan
islam memberikan perhatian khusus kepada metode al-ibrah agar peserta didik
dapat mengambil kisah-kisah dalam Qur’an dan Hadits serta tokoh-tokoh al-salaf
al-salih bukanlah semata-mata dari aspek historisnya saja, melainkan pelajaran
penting yang terdapat di dalamnya sebagai sesuatu yang beharga untuk diambil
dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan
metode mau’izah pengajaran melalui nasehat merupakan metode yang efektif untuk
menyentuh hati dan perasaan. Karena metode al-mau’izah pada dasarnya adalah
nasehat yang lemah lembut yang sengaja dibuat untuk menyentuh akal budi dan
perasaan peserta didik secara langsung. Metode ini dapat diterapkan melalui
berbagai mata pelajaran melalui kandungan nilai-nilai yang terdapat didalamnya.
6. Metode
al-Targib wa al-Tahrib
Metode
al-targib wa al-tahrib ini didasarkan atas fitrah manusia yang menginginkan
kebahagian, kesenangan dan keselamatan serta tidak menginginkan kepedihan dan
kesengsaraan. Metode ini merupakan metode andalan dalam pendidikan islam yang
tidak menginginkan adanya hukuman dan ganjaran, kecuali dalam konteks sebagai
satu-satunya jalan yang bisa ditempuh.
Penerapan metode
ini hampir identik dengan metode al-mau’izah, akan tetapi penekanannya adalah
dengan memberikan gambaran rasional yang menyentuh pikiran dan perasaan peserta
didik bahwa siapa pun yang melakukan kebaikan akan memperoleh ganjaran pahala
yang berlimpah dari Allah swt, sebaliknya siap menerima resiko atas
ketidakpeduliannya dalam melaksanakan kebaikan dan kebenaran yang dititahkan
oleh Tuhan.
Tentu saja penerapan
metode teknik-teknik tersebut berikut pengkombinasiannya dengan metode
pembelajaran yang paling modern sekalipun, niscaya akan dapat dilakukan oleh
setiap pendidik muslim sesuai dengan kebutuhan dan kemanfaatannya masing-masing
adalah tugas para pendidik muslim untuk mengembangkan dan menemukan macam
metode dan teknik-teknik mengajar yang lebih efektif dan efisien untuk mencapai
tujuan pembelajaran dalam pendidikan islam.
Sumber :
Siddik, D. (2006). KONSEP DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM.
Bandung: Citapustaka Media.