PGMI_UNISKA_2015

PGMI_UNISKA_2015

Minggu, 22 Mei 2016

metode-metode pembelajaran dalam islam


Metode-Metode Pembelajaran dalam islam
Telah dikatakan didepan bahwa pendidikan Islam tidak keberatan untuk menggunakan metode teknik-teknik pembelajaran apapun jenis, nama, dan bentuknya, jika metode dan teknik-teknik itu memang terbukti baik dan tidak bertentangan dengan iman dan kesalehan hidup seorang Muslim. Terbuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi pendidik muslim untuk menggunakan berbagai macam metode dan teknologi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, bahan pelajaran, keadaan peserta didik, pendidik, keadaan dan fasilitas yang tersedia.
Secara historis, sejak awal para pendidikan muslim telah menggunakan berbagai macam pendekatan dan teknik-teknik mengajar yang beraneka ragam, antara lain seperti metode atau tariqahbal-qudwah (contoh teladan), tariqah al-mau izah (pengajaran dan nasehat), tariqah bi al-adah atau tariqah al-tadrib (latihan dan kebiasaan), tariqah al-mulahazah (pengawasaan dan pemantauan), tariqah hal al-musykilah (pemecahan masalah), tariqah al-iktisyafah (penemuan), dan bermacam-macam lagi. (Siddik, 2006)
Di antara metode-metode yang disebutkan diatas, serta metode-metode lainnya sebagaimana akan diuraikan berikut ini, merupakan metode belajar yang khas, yaitu:

1.      Metode Hiwar
     Metode hiwar (dialog) ini terbagi kepada hiwar Qur’ani dan hiwar Nabawi, tetapi
keduaanya tetap merupakan dialog silih berganti antara dua pihak atau lebih, tentang suatu tema yang disengaja diarahkan kepada suatu tujuan yang di kehendaki.
     Prosesnya penerapannya yang khas menghasilkan nilai-nilai eduktif yang tinggi. Hal ini antara lain disebabkan:
a.       Dialog itu berlangsung secara dinamis, karena kedua pihak terlibat langsung dalam pembicaraan. Hal ini menumbuhkan keterlibatan mental peserta didik untuk menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,
b.      Ketertarikan peserta didik untuk mengikuti terus pembicaraan itu karena ingin tahu kesimpulannya, menyebabkan mereka terlatih untuk membuat kesimpulan atas suatu peristiwadan kejadian.
c.       Situasi dan setting sosial yang terdapat didalamnya dapat membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan dalam jiwa peserta didik yang dapat membantu dan mengarahkan peserta didik untuk menemukan sendiri tujuan pembelajaran yang diimplisitkan di dalamnya.
d.      Apabila metode hiwar dilakukan dengan sebaik-baiknya, niscaya akan memenuhi tuntutan akhlak dalam islam, seperti cara berdialog dan menyampaikan suatu informasi, yang secara keseluruhan dapat mempengaruhi peserta didik sehingga meninggalkan pengaruh berupa pendidikan akhalak, khususnya sikap dalam berbicara, menghargai pendapat orang lain dan sebagainya.

1.    Metode Qisasi
Metode qisasi (kisah), baik qisasi Qur’ani maupun qisasi Nabawi, kedua-duanya menekankan penurunan tentang kisah-kisah yang terdapat dalam al-Qur’an, maupun didasarkan pada sirah Nabi.
Penerapan metode qisasi ini sebagai metode pembelajaran pada bidang studi pendidikan agama islam mengandung nilai edukasi yang tinggi. Suatu kisah memang selalu memikat dan mengundang pembaca atau pendengar untuk mengikuti peristiwa dan merenungkan maknanya. Selain itu kisah juga dapat menyentuh hati manusia karena menampilkan tokoh dalam konteksnya yang menyeluruh, sehingga pendengar maupun pembaca dapat ikut menghayati dan merasakan isi kisah itu seolah-olah dia sendiri yang menjadi pelakunya. Kisah dapat mendidik perasaan keimanan dengan terbangkitnya berbagai perasaan  seperti khauf, ridha, cinta dan mengarahkan seluruh perasaan sehingga tertumpu pada suatu puncak yaitu kesimpulan kisah, serta melibatkan pembaca atau pendengar ke dalam kisah itu sehingga ia terlibat secara emosional.
Memang metode qisasi, dapat dikatakan metode ceramah, akan tetapi ceramahan yang dilakukan dapat melibatkan mental peserta didik pada taraf yang tinggi, karena suatu kisah dengan sendirinya selalu berkaitan dengan kenyataan-kenyataan yang dijumpai di tengah-tengah masyarakat. Tentu saja penyajian metode kisah ini tidak dilakukan secara menonton, melainkan penuh variasi dengan gaya bahasa yang baragam.

2.      Metode amsal
Metode amsal (perumpamaan) ini biasanya digunakan oleh pendidik dengan mengungkapkan yang hampir sama dengan metode qisasi yaitu dengan berceramah atau membaca teks. Kebaikan metode ini adalah, mempermudah peserta didik dalam memahami konsep yang abstrak, merangsan kesan terhadap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut, apalagi karena bahan pelajaran yang menggunakan metode ini menjadi lebih mudah dipahami, logis serta rasional. Metode ini juga memberikan motivasi untuk berbuat baik dan menjauhi kejahatan, sebagai tujuan pokok pada penerapan metode ini.



3.      Metode al-‘Adah
Inti sari metode al-adah (kebiasaan) ini ialah pengulangan, jika pendidik masuk kelas mengucapkan salam, maka hal itu dapat diartikan sebagai usaha pembiasaan. Bila peserta didik telah dibiasakan bersih dan rapi setiap datang ke sekolah/madrasah, berarti setiap menerapkan metode ini. Bila peserta memasuki kelas tidak mengucapkan salam, termasuk dari bagian penerapan metode ini.

4.      Metode al-Qudwah
Metode al-qudwah (keteladanan) ini memang berpusat pada pendidik. Keteladanan personal para pendidik merupakan kunci keberhasilan dalam penerapan metode ini. Betapapun metode pembiasaa memang efektif untuk pembentukan sikap dan nilai-nilai, akan tetapi tidak diimbangi dengan keteladanan para pendidiknya maka hasilnya pun, jika tidak sia-sia sama sekali maka sekurang-kurangnya menjadi kurang efektif. Itulah sebabnya keteladanan pendidik merupakan prasyarat bagi keberhasilan pendidikan.

5.      Metode al-‘Ibrah wa al-Mau’izah
Pendidikan islam memberikan perhatian khusus kepada metode al-ibrah agar peserta didik dapat mengambil kisah-kisah dalam Qur’an dan Hadits serta tokoh-tokoh al-salaf al-salih bukanlah semata-mata dari aspek historisnya saja, melainkan pelajaran penting yang terdapat di dalamnya sebagai sesuatu yang beharga untuk diambil dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan metode mau’izah pengajaran melalui nasehat merupakan metode yang efektif untuk menyentuh hati dan perasaan. Karena metode al-mau’izah pada dasarnya adalah nasehat yang lemah lembut yang sengaja dibuat untuk menyentuh akal budi dan perasaan peserta didik secara langsung. Metode ini dapat diterapkan melalui berbagai mata pelajaran melalui kandungan nilai-nilai yang terdapat didalamnya.

6.      Metode al-Targib wa al-Tahrib
Metode al-targib wa al-tahrib ini didasarkan atas fitrah manusia yang menginginkan kebahagian, kesenangan dan keselamatan serta tidak menginginkan kepedihan dan kesengsaraan. Metode ini merupakan metode andalan dalam pendidikan islam yang tidak menginginkan adanya hukuman dan ganjaran, kecuali dalam konteks sebagai satu-satunya jalan yang bisa ditempuh.
Penerapan metode ini hampir identik dengan metode al-mau’izah, akan tetapi penekanannya adalah dengan memberikan gambaran rasional yang menyentuh pikiran dan perasaan peserta didik bahwa siapa pun yang melakukan kebaikan akan memperoleh ganjaran pahala yang berlimpah dari Allah swt, sebaliknya siap menerima resiko atas ketidakpeduliannya dalam melaksanakan kebaikan dan kebenaran yang dititahkan oleh Tuhan.
Tentu saja penerapan metode teknik-teknik tersebut berikut pengkombinasiannya dengan metode pembelajaran yang paling modern sekalipun, niscaya akan dapat dilakukan oleh setiap pendidik muslim sesuai dengan kebutuhan dan kemanfaatannya masing-masing adalah tugas para pendidik muslim untuk mengembangkan dan menemukan macam metode dan teknik-teknik mengajar yang lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam pendidikan islam.



Sumber : 
 
Siddik, D. (2006). KONSEP DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM. Bandung: Citapustaka Media.

1 komentar:

  1. Harrah's Cherokee Casino Hotel - Mapyro
    Find 동해 출장마사지 Harrah's Cherokee Casino Hotel, profile 경상북도 출장안마 picture. 경기도 출장안마 Find 원주 출장마사지 address, 김해 출장안마 telephone number, map, map, reviews, photos, location maps,

    BalasHapus